Lupakan asas luberjurdil. Apakah kamu menggunakan hak pilih kamu dalam pemilu kemarin?
Sebagai WNI yang baik, nyontreng adalah kewajiban. Ya, kali ini "nyontreng", bukan "nyoblos". Riki Rikardo Marpaung mengungkapkan antusiasmenya untuk "nyoblos" seandainya capres RI adalah Aura Kasih atau Farah Quinn. [1]
Seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pemilu kemarin diwarnai keluhan-keluhan seputar kewajiban "celup-mencelup". Bagaimana tidak, keasyikan mengupil pasti terganggu ketika seorang pemilih sadar bahwa jari imutnya masih ungu-ungu pekat. Tapi apakah itu berarti dia harus bete seharian? Nggak dong.
Kamis kemarin kak Viky harus terus-menerus bercermin sehabis mengupil, khawatir idungnya akan makin mirip Ivan Ooze. Meski demikian, bagi kak Viky tinta ungu di ujung kelingking tersebut adalah sebuah kebanggan, karena warna janda itu diperoleh kak Viky setelah mencontreng idolanya, Ir.J. Satrya Solihin.
Gang, membesar-besarkan hal kecil seperti "bete ngupil ketika jariku ungu" sebetulnya sama sekali tidak perlu. Kepada adik kita Juliharto, mari kita perkenalkan buku favorit tokoh Adi Darwis dalam Lupus, "Don't Sweat the Small Stuff."
[1]Riki Rikardo. Andaikan Calon Presiden RI Itu Aura Kasih Atau Farah Quinn... PASTI TAK COBLOS!!!. 11-03-09. (URL:http://www.facebook.com/profile.php?id=692252648&v=feed&story_fbid=30134404980)
From: yngwie_j90@xx.xx
Sent: Sunday, March 29, 2009 7: 22 PM
To: Kilikitik@windowslive.com
Dear Kilikitik,
Juliharto, pria, 56, profesi dokter, domisili Bandung, sawo matang, supel, suka basket, sabar, pengertian, mudah bete. Nah yang terakhir ini nih yang sering datengin masalah buat saya.
Suatu pagi ketika saya memulai aktivitas seperti pada hari-hari biasanya, saya ke Tujuh-Sebelas untuk beli Pu Tau Chee Chiew. Pas mau bayar, saya sadar kalau I Gusti Ngurah Rai pada 2 lembar uang 50.000-an saya nggak menghadap ke arah yang sama. Nah dari situ tuh saya mulai bete.
Udah gitu, pas di ruang praktek saya sadar kalo koleksi Medical Encyclopedia di rak buku saya nggak kesusun sesuai urutan, kok "Drowsiness-Ecchymoses" ada di sebelah kanan "Mammoplasty-Molipaxin"?? Sumpah, bikin kesel.
Meski bete, waktu terasa berlalu dengan cepat. Jarum jam menunjukkan pukul 6 petang dan jam praktek saya pun usai. Sebelum pulang saya sempet ngopi-ngopi dan membaca Siti Noerbaja terbitan Balai Pustaka, 1920.
Saya merasa disepet oleh tokoh Datuk Maringgih yang bandot tua tapi doyan daun muda. Saya marah... tapi karena pengarang novel itu namanya Marah Roesli, saya nggak jadi marah, malahan saya jadi inget istri saya. Pas mikirin istri saya, tiba-tiba saya jadi parno, jangan-jangan dia lagi bunuh diri kayak si Siti. Pas mikirin Siti, yang muncul di benak saya adalah Siti Tuti Susilawati Sutisna a.k.a Sania dengan single-nya yang berjudul "Santai", sehingga saya jadi santai.
Saya kalau lagi santai paling suka streaming. Kolega saya Harman Sigurrós lebih menganjurkan dengerin lagu Mieke Asmara daripada lagunya Sania, soalnya takut "Bablas". Saya bahkan nggak tau siapa itu Mieke, saya kira dia pemeran ibunya Syahrul Gunawan di Jin & Jun. Tapi karena Harman batak dan penyelundup vicodin, saya nurut aja.
Bukannya mendengar: "Botol apaan nih? *plop* dst..dst.." diiringi lagu arabia, saya malah mendengar lagu dang-dub yang bikin gelisah. Saya makin kaget karena di video itu ada sejenis Black Eyed Peas nari-nari di kebun binatang. Udah gitu ada tulisan "Dilarang memancing dan buang sampah ke danau" pula.
Saya kan internetan pake Welkom Quickie, makanya sering putus-putus. Saya nggak sadar kalau ternyata bufferingnya putus di detik 0:55. Na udzu billahi min dzaligh, gambar yang muncul di detik itu terlalu hororrrrr. Ditambah lagi detik 1:02. Alhasil mood santai saya pun berantakan.
Kenapa sih dalam sehari aja nggak ada yang sesuai sama kemauan saya? Mood saya sampe sekarang masih nggak asyik, karena tiap hari ya kurang lebih sama aja, semuanya bikin frustrasi.
Juliharto,
Bandung
Dear Jules,
Pas baca email anda, saya kira anda salah kirim, hampir saya kasih alamat Dunia Asmaradana atau sejenisnya. Nggak sekalian disebut tuh kalo anda lahir bulan Juli? Cancer atau Leo? Nggak mungkin Cancer lah ya, anda kan dokter.
Jules, orang lain bisa saja mengalami persoalan yang sama dan tidak pernah frustrasi. Lalu mengapa persoalan-persoalan tersebut begitu mengganggu anda?
Mudah saja: Idealisme. Kadang idealisme mengharuskan kita berpendirian sekokoh manekin.
Keinginan kita untuk melihat segala sesuatu di sekitar kita berjalan sesuai harapan tidak akan pernah terwujud. Sebaliknya, keinginan semacam ini sering berujung pada frustrasi dan pandangan-pandangan negatif tentang lingkungan sekitar kita.
Adythia Utama mendeskripsikan "Frustrasi" sebagai respon emosional dimana seseorang menuntut rasa bersalah dari pihak lain ketika ia merasa dirugikan. Gejolak semacam ini sama sekali tidak mencerminkan kasih sayang, gejolak ini dingin dan emo.
Frustrasi bisa saja tidak bertahan lama (seperti demam R&B indo di akhir '90-an dengan gimmick Sania vs Sarah Azhari) jika anda sudi mengubah pandangan anda. Pertanyaan saya, bisakah anda menerima setiap hal di sekitar anda apa adanya, walaupun mereka tidak pernah berubah menuruti kemauan anda? bagaimana jika mereka berubah sesuai keinginan anda, tapi perubahan tersebut tidak cukup cepat untuk mengimbangi kesabaran anda yang payah?
Pelajaran hidup yang setiap kali terlupakan: Berpikir positif, sabar, tidak membesar-besarkan hal kecil. Syukurilah setiap kejadian yang anda alami, karena melalui keseharian anda tersebutlah anda dapat kembali mengingat pelajaran-pelajaran hidup yang berharga.
Syukurilah juga setiap lembar bergambar I Gusti Ngurah Rai di dompet anda, karena di dompet saya isinya cuma lembaran-lembaran bergambar Thomas Matulessy yang doyan karaoke. Loh kok jadi saya yang curhat?
Shalom.
Ingin Curhat dan dibikin hepi?
kirim email berisi curhatan kamu ke kilikitik@windowslive.com
Curhatan kamu akan ditanggapi langsung oleh
kakak-kakak yang berpengalaman
kirim email berisi curhatan kamu ke kilikitik@windowslive.com
Curhatan kamu akan ditanggapi langsung oleh
kakak-kakak yang berpengalaman
*****
Terima Kasih Kepada :
Adythia Utama
Untuk apa kuliah psikologi kalau ada Google? Kak Adit adalah kombinasi sempurna antara psikolog dan musisi, ya, bidang keahlian yang masih sangat jarang di Indonesia, psikomusikologi. Tapi menurut beliau, Musicology adalah album Prince yang mengecewakan.
Sejak 2005, beliau memfokuskan studinya pada komplain-komplain tanpa solusi untuk kemudian berkarya tanpa ampun. Melalui Disasterhead, ia secara tulus membagi wawasannya yang luas dan beragam, mulai dari kenakalan WNI dewasa tanggung hingga konspirasi-konspirasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Tidak tanggung-tanggung, kak Adit selalu terjun langsung ke lapangan dalam setiap pengamatannya. Kesungguhan penggemar Rage Against The Machine ini dapat dibuktikan dengan kehadirannya di sebuah acara metalcore bugil-bugilan gawat yang dapat kamu lihat di sini, di sini dan di sini. (FYI : Vino G. Bastian juga hadir di acara tersebut).
Piawai dalam mengoptimalkan fungsi speech synth Fruity Loops, kak Adit baru-baru ini menggarap single "Pra One Are You the End Thought So Peer" yang terinsipirasi dari lukisan pada sebuah truk. Saran saya. simaklah Multiply dan MySpace beliau. Mungkin dengan demikian, dan hanya dengan demikian, kamu akan sadar betapa banyak hal yang luput dari perhatian kamu.
Seandainya Rock&Roll hanya dapat dideskripsikan dalam satu kata, maka Rock&Roll adalah Ludy. Bassist/Vocalist Blackmoore ini adalah salah satu pelopor pergerakan Hard Rock/Stoner Metal/ Neo-Psychedelia yang merambah Jakarta Selatan hingga Bandung. Selain aktif berkarya bersama Blackmoore, pria yang mengidolakan Lemmy Kilmister dan Jason Newsted ini juga beberapa kali ikut serta dalam aksi panggung Jelaga.
Darah metal yang mengalir dalam tubuh metalhead-nya ia peroleh dari sang ayah, aktivis gereja yang gemar mengenakan T-Shirt Lamb of God untuk rapat paroki. Namun tampilan metal bukan berarti hati grindcore, buktinya putra sulung keluarga Divinasto ini mengagumi Widy vokalisnya Vierra.
Kesediaan kak Ludy (dan sang ayah) untuk menaungi komunitas musisi Jakarta Selatan di kediamannya merupakan peran tak tergantikan dalam kemajuan scene musik daerah tersebut. Di rumahnya di bilangan Bintaro, kak Ludy sering bertukar pikiran dengan personel Holy City Rollers dan Whisper Desire (alm.).
Kepada Kilikitik, Bassist ber-style Jason Newsted ini secara rutin memberi masukan seputar musik-musik layak dengar, sekaligus mengungkapkan harapannya akan scene musik lokal yang lebih baik. "Scene musik keras Indo punya potensi yang nggak kalah dari scene luar, tapi untuk memajukannya butuh totalitas, jadi jangan salah kaprah dan menjadikan scene kita buat gaya-gayaan doang." Pesan kak Ludy.
Adythia Utama
Untuk apa kuliah psikologi kalau ada Google? Kak Adit adalah kombinasi sempurna antara psikolog dan musisi, ya, bidang keahlian yang masih sangat jarang di Indonesia, psikomusikologi. Tapi menurut beliau, Musicology adalah album Prince yang mengecewakan.
Sejak 2005, beliau memfokuskan studinya pada komplain-komplain tanpa solusi untuk kemudian berkarya tanpa ampun. Melalui Disasterhead, ia secara tulus membagi wawasannya yang luas dan beragam, mulai dari kenakalan WNI dewasa tanggung hingga konspirasi-konspirasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Tidak tanggung-tanggung, kak Adit selalu terjun langsung ke lapangan dalam setiap pengamatannya. Kesungguhan penggemar Rage Against The Machine ini dapat dibuktikan dengan kehadirannya di sebuah acara metalcore bugil-bugilan gawat yang dapat kamu lihat di sini, di sini dan di sini. (FYI : Vino G. Bastian juga hadir di acara tersebut).
Piawai dalam mengoptimalkan fungsi speech synth Fruity Loops, kak Adit baru-baru ini menggarap single "Pra One Are You the End Thought So Peer" yang terinsipirasi dari lukisan pada sebuah truk. Saran saya. simaklah Multiply dan MySpace beliau. Mungkin dengan demikian, dan hanya dengan demikian, kamu akan sadar betapa banyak hal yang luput dari perhatian kamu.
Ludy Divinasto
Seandainya Rock&Roll hanya dapat dideskripsikan dalam satu kata, maka Rock&Roll adalah Ludy. Bassist/Vocalist Blackmoore ini adalah salah satu pelopor pergerakan Hard Rock/Stoner Metal/ Neo-Psychedelia yang merambah Jakarta Selatan hingga Bandung. Selain aktif berkarya bersama Blackmoore, pria yang mengidolakan Lemmy Kilmister dan Jason Newsted ini juga beberapa kali ikut serta dalam aksi panggung Jelaga.
Darah metal yang mengalir dalam tubuh metalhead-nya ia peroleh dari sang ayah, aktivis gereja yang gemar mengenakan T-Shirt Lamb of God untuk rapat paroki. Namun tampilan metal bukan berarti hati grindcore, buktinya putra sulung keluarga Divinasto ini mengagumi Widy vokalisnya Vierra.
Kesediaan kak Ludy (dan sang ayah) untuk menaungi komunitas musisi Jakarta Selatan di kediamannya merupakan peran tak tergantikan dalam kemajuan scene musik daerah tersebut. Di rumahnya di bilangan Bintaro, kak Ludy sering bertukar pikiran dengan personel Holy City Rollers dan Whisper Desire (alm.).
Kepada Kilikitik, Bassist ber-style Jason Newsted ini secara rutin memberi masukan seputar musik-musik layak dengar, sekaligus mengungkapkan harapannya akan scene musik lokal yang lebih baik. "Scene musik keras Indo punya potensi yang nggak kalah dari scene luar, tapi untuk memajukannya butuh totalitas, jadi jangan salah kaprah dan menjadikan scene kita buat gaya-gayaan doang." Pesan kak Ludy.
Terima kasih juga kepada :
Ariyo Arismunandar, Andro Kristian, Irfan Kurniawan dan Iman Hilman.
Ariyo Arismunandar, Andro Kristian, Irfan Kurniawan dan Iman Hilman.
Percayakan kisah anda yang paling aib pada kami. Kami menjaga kerahasiaan anda.


nice post gan!
BalasHapuseh, ternyata, PERTAMAX!
ah KEDUAX deh.
BalasHapusudah lama nggak posting nih kak Viky....
BalasHapusapa saya aja yang curhat?
apasih.... apa**l
UUUPPDAATTEEE DOONKKK GAAANNNN
BalasHapus@ idunc : boleh gan, soal apa**l hahaha.
BalasHapus@ irfan : maaf yah saipul, sesegera mungkin saya update, biar tetep up to dad (terserah papa).
isi blognya lucu2 deh..
BalasHapussalam kenal, gw mawar..
Salam kenal juga, saya kak Viky.
BalasHapus